Kamis, 06 November 2008

Pendekar super sakti seri-2

Laki-laki itu kebingungan lalu menuju ke jendela kamar. Didorongnya jendela itu dengan bahunya, dan asap bercampur api menjilat masuk. Ia tidak peduli akan hawa panas yang menyesak dada, terus saja ia menerobos keluar melalui jendela dan setibanya di luar jendela, sebagian atap yang terbakar menimpanya! Orang itu mendekap tubuh Han Han dan kayu yang membara menimpa kepala dan pundaknya. Rasa nyeri dan panas menyengat tubuhnya, membuatnya hampir roboh. Akan tetapi ia hanya jatuh berlutut saja, cepat bangkit kembali dan terhuyung-huyung mencari jalan keluar. Beberapa kali ia menerjang lautan api, rambutnya sudah terbakar habis, juga kumis, jenggot dan alisnya, mukanya, sudah hangus dan melepuh, pakaiannya setengah telanjang dan hangus, tubuhnya melepub semua dan napasnya terengah-engah. Akan tetapi akhirnya ia berhasil keluar dari lautan api dan terhuyung-huyung memasuki taman yang gelap. Sinar api hanya menyinar melalui celah-celah pohon kembang dan di tempat inilah laki-laki itu terguling roboh. Tubuh Han Han terlepas dari dukungannya dan terbanting pula ke atas tanah yang bertilam rumput hijau basah dan segar.


“Ibu….!” Han Han siuman kembali dan pertama-tama yang teringat olehnya adalah ibunya. Akan tetapi sinar merah dan suara berkerotokan rumah terbakar itu menyadarkannya dan ia cepat bangkit duduk menoleh ke arah rumah keluarganya yang terbakar. “Ibu….!”

“Aagghhh…. Kongcu…. Ibumu…. sudah tewas….”

Han Han bangkit dan terhuyung-huyung menghampiri orang yang rebah tak jauh dari situ. Ia berlutut dan hampir tak dapat mengenal wajah yang sudah melepuh, kepala yang gundul dan tubuh yang hangus itu. Akan tetapi sinar api kadang-kadang menjilat sampai ke situ dan ia dapat mengenal bentuk muka ini.

“A Sam….!” Ia memeluk. Anak ini amat cerdik dan kuat ingatan. Tadi ia berada di kamar ibunya, sekarang berada di taman dan A Sam luka-luka terbakar. Segera ia dapat menarik kesimpulan bahwa pelayannya yang setia inilah yang menolongnya keluar dari rumahnya yang terbakar. Ia teringat ayahnya yang sudah tewas pula, dan teringat cicinya di kamar sebelah.

“Cici Leng….?”

“…. dibawa pergi…. anjing-anjing Mancu…. kau pergilah, Kongcu…. pergilah jauh-jauh…. menyamar sebagai pengemis…. jangan berada di kota ini…. aku…. aku…. auugghhh….” A Sam, pelayan tua yang amat setia dari Keluarga Sie, yang selalu menjadi teman bermain Han Han semenjak ia dapat berjalan, menjadi lemas.

“A Sam….! A Sam….!” Namun orang itu tidak menyahut, dan tidak akan dapat menjawab lagi karena ia telah mati. Mati sebagai seorang yang setia dan karenanya mati sebagai seekor harimau!

Han Han duduk melamun. Ia tidak menangis. Tidak dapat menangis lagi. Dan ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang mendorongnya untuk berpikir, untuk berbuat dan menggkinakan akalnya. Matanya melirik ke kanan kiri seperti mata seekor anjing yang dikurung dan mencari kesempatan untuk keluar. Mata yang cerdik sekali. Terjadi pada diri Han Han yang tidak ia sadari sendiri. Ketika tadi ia dibanting lalu ditendang, kepalanya terbanting menumbuk dinding dan getaran bantingan inilah yang agaknya mengubah keadaan pikirannya. Mendatangkan ketabahan luar biasa, kecerdikan yang aneh, dan membuat ia tidak dapat susah lagi! Biarpun kini menghadapi kematian ayah bundanya, dan kehilangan cicinya, yang berarti bahwa seluruh keluarganya hancur, ia sama sekali tidak merasa susah! Yang ada hanya bayangan tujuh orang perwira, terutama sekali wajah dan bentuk tubuh perwira brewok dan perwira muka kuning, seperti terukir di benaknya, takkan terlupakan lagi olehnya!

Dari peristiwa terkutuk dan malam jahanam itu, terciptalah seorang yang aneh, dan orang yang melihatnya tentu akan mengira bahwa Han Han telah menjadi gila oleh peristiwa mengerikan itu. Ketika anak itu akhirnya membungkuk, mencium dahi gosong bekas pelayannya, kemudian bangkit berdiri dan terhuyung-huyung meninggalkan taman, memasuki bagian-bagian yang gelap, orang yang melihatnya tentu akan merasa kasihan sekali. Akan tetapi orang itu akan tercengang kalau saja dapat melihat betapa mata itu berkilat-kilat, betapa mulut yang masih bengkak itu tersenyum aneh. Bocah ini hanya berhenti sebentar untuk merobek sebagian dari pakaiannya, mengotori tubuhnya dengan abu, membuang sepatunya kemudian menyelinap sampai keluar dari kota.

Peristiwa terkutuk itu terjadi di kota Kam-chi ketika pasukan-pasukan Mancu memperluas wilayahnya dan menyerbu ke jurusan selatan, yaitu pada tahun 1645 dan merampas kota Nan-king. Dan tidak hanya terjadi di Kam-chi saja, melainkan di setiap kota dan dusun selalu terjadilah pembunuhan-pembunuhan, perkosaan-perkosaan, penculikan dan perampokan yang keji. Memang demikianlah sifat kekejian yang ditimbulkan oleh perang, di bagian mana saja di dunia ini, semenjak masa dahulu sampai sekarang.

Gelombang bangsa Mancu ini dimulai ketika di antara bangsa dari utara ini muncul seorang tokoh besar yang menjadi raja mereka, yaitu Raja Nurhacu (tahun 1616) yang menamakan diri sendiri kaisar dan mendirikan wangsa atau Kerajaan Ceng. Di bawah bimbingan Kaisar Nurhacu yang kebesarannya menyamai Raja Mongol Jengis Khan yang tersohor itu, mulailah bangsa Mancu membuka dan mengembangkan sayapnya, menaklukkan gerombolan-gerombolan dan suku-suku bangsa yang dipimpin raja-raja kecil sehingga dalam beberapa tahun saja berhasil menguasai seluruh Mancuria.

Melihat kekuasaan dan kekutan bangsa Mancu, bangsa Mongol yang sudah lama kehilangan kekuasaannya setelah Pemerintahan Goan hancur, menjadi tertarik dan menggabungkan diri dengan bangsa Mancu. Persekutuan ini amat kuat dan barisan gabungan ini menyerbu dan menundukkan Korea dalam tahun 1637. Kemudian pasukan Mancu yang diperkuat dengan pasukan Mongol dan pasukan taklukan dari Korea, di bawah pimpinan Kaisar Abahai yang menggantikan Kaisar Nurhacu (1626-1646), menyerbu terus ke Shan-tung, berhasil menundukkan propinsi ini dan menghancurkan bala tentara Beng, lalu terus menyerbu ke arah ibu kotanya, yaitu Peking. Namun penyerbuan ini tertunda karena Kaisar Abahai meninggal. Karena putera mahkota masih sangat muda, maka kekuasaan dipegang oleh Pangeran Dorgan, saudara mendiang Kaisar Abahai.

Pangeran Dorgan adalah seorang ahli perang yang ulung. Ia mengerti bahwa di dalam pemerintah Beng sendiri terjadi pemberontakan-pemberontakan, dan Peking telah terjatuh ke tangan pemberontak Lie Cu Seng yang menyerbu dari selatan. Dengan cerdik Pangeran Dorgan menghubungi Bu Sam Kwi, panglima yang menjaga tapal batas utara, dan bersama Panglima Beng yang berkhianat ini menyerbulah bala tentara Mancu ke Peking dan berhasil mengalahkan barisan pemberontak Lie Cu Seng. Lie Cu Seng sendiri melarikan dari Peking setelah merampok kota indah itu habis-habisan.

Akhirnya Bu Sam Kwi sadar bahwa ia telah memasukkan srigala ke tanah airnya, maka ia merasa menyesal dan membawa bala tentaranya mengungsi ke barat daya yaitu ke Se-cwan di mana ia memperkuat kedudukannya dan menjadi raja yang berdaulat di situ, jauh dari kekuasaan dan pengaruh pemerintah Mancu yaitu Kerajaan Ceng-tiauw.

Pangeran Dorgan melanjutkan penyerbuannya ke selatan dan di bawah pinnpinan pangeran inilah bala tentara Mancu berhasil terus menduduki Nan-king dan wilayah bagian selatan. Pangeran Dorgan yang amat cerdik itu pandai mengambil hati para pembesar dan hartawan di selatan, mengumumkan tidak akan mengganggu mereka asal mereka suka bekerja sama. Tentu saja ada terjadi kekecualian, yaitu mereka yang tidak mau bekerja sama tentu dirampok habis dan dibasmi keluarganya. Ada pula terjadi hal-hal seperti yang menimpa Keluarga Sie di Kam-chi itu, dan pelaporan ke atas tentu berbunyi sama, yaitu bahwa keluarga itu tidak mau bekerja sama sehingga terpaksa dibasmi!

Demikianlah, cerita ini dimulai pada tahun 1645, dimulai dengan lembaran hitam dan sebagai contoh dari sekian banyaknya peristiwa keji dan terkutuk, diceritakan kemalangan yang menimpa Keluarga Sie.

Beberapa bulan kemudian setelah terjadinya peristiwa terkutuk di Kam-chi itu, tampak seorang anak laki-laki berpakaian penuh tambalan berjalan seorang diri memasuki kota Tiong-kwan di lembah Sungai Huang-ho. Kota ini telah lebih dulu ditaklukkan oleh tentara Mancu sehingga kini keadaan di situ sudah tampak aman dan tenteram. Rakyat sudah mulai bekerja lagi seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi perang, seolah-olah rakyat tidak peduli siapa yang berkuasa, siapa yang menjadi raja dan bangsa apa yang menjajah mereka! Anak kecil itu berusia sepuluh tahun lebih, berjalan melenggang seenaknya dan di pundaknya tergantung sebuah keranjang yang terisi beberapa buah roti kering dari gandum.

Dia bukan lain adalah Sie Han, atau Han Han. Kalau ada orang Kam-chi yang bertemu dengannya, tentu tidak akan dapat mengenalnya sebagai bekas putera sastrawan Sie Bun An. Bukan hanya pakaiannya yang penuh tambalan dan kakinya yang telanjang serta kulit kaki tangannya yang kotor itu yang membuat orang pangling, namun memang terjadi perubahan besar pada diri anak ini. Pandang matanya jauh berbeda, pandang mata yang amat tajam dan manik mata itu seolah-olah mengeluarkan sinar yang menembus dada orang. Bola mata yang bening itu bergerak-gerak lincah sebagai pencerminan otaknya yang dapat bekerja cepat. Rambutnya digelung ke atas dan dibungkus dengan saputangan yang kotor. Ketika berjalan melalui jalan yang sunyi menuju ke kota Tiong-kwan ini, Han Han bernyanyi dengan suara nyaring. Orang tentu akan tercengang keheranan kalau mendengar kata-kata nyanyiannya. Orang yang tidak pernah membaca kitab tentu menganggapnya bernyanyi ngawur saja atau sedikitnya mengira dia tidak waras.

Akan tetapi kaum terpelajar akan lebih tercengang keheranan karena tentu akan mengenal nyanyian dari sajak ciptaan sastrawan besar Go Pek di jaman Kerajaan Sui, ratusan tahun yang lalu.

“Bekerja seenaknya tak tertekan tak diperintah,
mengemis ke mana saja mengetuk hati nurani manusia.
Amboi…. betapa bebas dan senangnya!
Mereka yang tidak tahu akan kebahagiaan para pengemis,
tidak tahu pula senangnya kehidupan burung di udara!”

 
Setelah selesai menyanyikan sajak yang ia hafal dari kitab-kitab yang pernah dibacanya, Han Han lalu mencela sendiri, dengan ucapan bisik-bisik seperti berkata kepada diri sendiri, mencela nyanyian tadi.

“Wah, Go Pek memang pelamun kosong! Kalau ditakdirkan menjadi manusia, mengapa menginginkan kehidupan burung? Manusia dan burung tidak sama. Orang yang malas dan hanya suka mengemis adalah orang yang tiada gunanya. Dan apakah artinya hidup di dunia kalau tidak ada gunanya?” Ia menggeleng-geleng kepalanya lalu bernyanyi lagi akan tetapi sekali ini nyanyiannya jauh berbeda dengan tadi, karena nyanyiannya seperti lagu kanak-kanak :
 
“Duk-ceng, duk-ceng!
warna hitam tampak putih,
bau busuk disangka wangi,
suara brengsek terdengar merdu,
rasa pahit katanya manis!
Duk-ceng, duk-ceng!
Jangan percaya mata dan telinga mulut,
semua itu palsu belaka.
Duk-ceng, duk-ceng, duk-ceng-ceng!”

 
Terdengamya saja nyanyian ini seperti nyanyian kanak-kanak. Suara duk-ceng itu adalah suaranya tambur dan gembreng. Akan tetapi sesungguhnya, nyanyian ini adalah nyanyian kaum Agama To dan mempunyai arti yang amat dalam. Nyanyian yang menyindirkan betapa manusia dikuasai oleh panca indranya, betapa manusia selalu menurutkan perasaannya. Betapa tepatnya nyanyian kanak-kanak ini karena setiap hari pun sampai sekarang dapat kita lihat “dagelan” (lawak) macam itu. Betapa banyaknya orang melihat hal hitam sebagai putih sehingga yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Betapa yang busuk-busuk dapat ditutup dengan harta sehingga tercium wangi, suara-suara yang menyesatkan dianggap merdu kalau suara itu menguntungkannya, dan masih banyak kenyataan-kenyataan lain.
 
Semua itu dikenal Han Han dari kitab-kitabnya. Dia meninggalkan rumah dan keluarganya yang terbasmi habis itu tanpa membawa uang sepeser pun. Akan tetapi Han Han seorang anak yang cerdik dan semenjak peristiwa itu terjadi, ia menemukan ketabahan dan keuletan yang luar biasa sekali. Di sepanjang jalan dalam perantauannya yang tiada bertujuan ini, ia selalu mencari pekerjaan, membantu petani kalau lewat di dusun, membantu mencuci piring di restoran, menggosok kuda dan kereta, mengangkut barang-barang yang dibongkar dari perahu dan lain-lain. Dengan keuletannya ini, ia tidak pernah kekurangan makan dan pada saat itu, ia malah masih mempunyai bekal roti kering yang akan cukup menghindarkannya dari kelaparan selama beberapa hari.

Ketika ia memasuki pintu gerbang kota Tiong-kwan dan memasuki tempat yang mulai ramai, Han Han tidak bernyanyi lagi, bahkan sikapnya pun tidak acuh seperti sikap seorang pengemis biasa. Ia melihat-lihat keadaan kota yang cukup ramai itu karena letaknya yang dekat dengan Sungai Huang-ho membuat kota ini mudah melakukan hubungan dengan kota-kota lain. Akan tetapi ada hal yang membuat Han Han diam-diam termenung dan prihatin, yaitu banyaknya pengemis di kota ini. Bukan pengemis-pengemis biasa yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah tidak kuat bekerja dan tidak mempunyai keluarga yang menyokongnya, melainkan pengemis-pengemis cilik yang terdiri dari anak-anak sebaya dengan dia sendiri.

Akibat perang, keluhnya diam-diam dengan perasaan tidak senang. Anak-anak yang sudah kehilangan orang tua dan keluarga, atau anak-anak yang orang tuanya demikian miskin sehingga mereka ini terlantar dan mencari makan dengan jalan mengemis. Anak-anak usia belasan tahun yang pakaiannya compang-camping, ada yang penuh tambalan, ada pula yang hanya memakai celana butut tanpa baju, dengan tubuh kurus akan tetapi perut gendut tanda perut yang jarang diisi atau diisi secara tidak teratur. Muka yang kurus pucat, sinar mata yang sayu tidak bercahaya, pencerminan hati yang kehilangan harapan dan pegangan. Akan tetapi ada pula di antara mereka yang nakal-nakal, dengan sinar mata mencemoohkan dunia, tidak peduli akan segala perbuatannya, tidak tahu membedakan pula antara baik dan buruk. Pengaruh keadaan!

Tiba-tiba sebatang kayu bercabang meodongnya. Han Han mengangkat muka, sadar dari lamunan dan melihat bahwa yang menodongnya adalah seorang anak laki-laki sebaya dengan dia, akan tetapi tubuhnya amat kurus sehingga tulang-tulang iga yang tidak tertutup baju itu tampak nyata. Muka yang cekung kurus itu membayangkan ketampanan, sedangkan matanya bersinar cerdik menimbulkan rasa suka di hati Han Han.

“Berlutut kamu! Berlutut dan tunduk kepada perwira tinggi atau kupenggal kepalamu! Engkau tentu pencuri, he? Atau pencopet?” Mata anak itu melirik ke arah keranjang yang terisi roti kering.

Melihat lagak anak ini seperti seorang perwira menodongkan pedang dengan angkuhnya, Han Han tertawa terbahak dengan hati geli. “Ha-ha-ha-ha! Perwira macam apa ini? Bajunya dari kulit hidup, bukan terhias bintang melainkan terhias tulang-tulang iga. Dan celananya, bukan terhias baju besi melainkan terhias tambal-tambalan! Apakah kamu ini perwira dari neraka?”

Melihat Han Han tidak marah sehingga tidak ada alasan untuk diajak berkelahi, malah tertawa dan mengeluarkan kata-kata lucu, anak itu pun menyeringai tertawa. Giginya putih dan rata, menambah ketampanan wajahnya dan menambah rasa suka di hati Han Han.

“Kau orang baru di sini? Bagaimana kau datang? Dan dari mana kau mendapatkan roti kering begitu banyak?” tanya anak itu, menyelinapkan rantingnya di pinggang seperti seorang perwira menyimpan pedangnya.

“Kau mau? Lapar? Nih sebuah untukmu,” kata Han Han sambil menyerahkan sehuah roti kering.
Anak itu memandang terbelalak, menelan ludah dan bertanya ragu, “Benar-benar kauberikan sebuah untukku? Tidak main-main?” Ia merasa heran karena belum pernah melihat seorang pengemis lain memberinya sepotong roti dengan sikap begitu royal dan ramah.

“Mengapa tidak? Kalau kau lapar! Mari kita makan di pinggir jalan,” kata Han Han sambil berjalan ke tepi jalan lalu duduk di atas tanah. Anak itu telah menerima roti pemberian Han Han, memandang roti seperti belum percaya, lalu mengikuti Han Han duduk di tepi jalan. Seketika sikap bocah itu berubah ramah dan akrab dan memang itulah sifat aselinya. Kalau tadi ia seperti anak yang memancing perkelahian adalah watak yang dibentuk oleh keadaan sekelilingnya.

“Wah….! Keras….!” Anak itu mengeluh ketika mencoba menggigit rotinya.
Han Han tersenyum. “Memang keras sekali, sengaja dibuat untuk dapat bertahan sampai berbulan-bulan. Makannya harus dicelup air teh, baru nikmat.”

“Wah, dari mana bisa mendapatkan air teh?”
“Beli, kalau kamu mau pergi membeli sebentar.”
“Hah? Beli? Memang kaukira aku ini kongcu (tuan muda) hartawan?”

Han Han tertawa geli dan merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong uang kecil, sisa hasil ia membantu pedagang membangkar barangnya kemarin dulu.

“Nih, kaubelilah air teh, kutunggu di sini. Untuk dapat membeli air teh saja masa memerlukan seorang kongcu hartawan?”

Kembali anak itu memandang heran, akan tetapi ia lalu menyambar uang itu dan lari pergi dari situ, membawa roti keringnya. Han Han menghela napas. Kalau dia tidak kembali ke sini, aku tidak akan heran, pikirnya. Bocah-bocah seperti itu patut dikasihani! Benar-benar sebuah pemikiran yang amat janggal. Dia sendiri yang tadinya seorang “kongcu” hartawan dan terpelajar, tinggal di rumah gedung dilayani banyak pelayan, sekarang keadaannya tiada bedanya dengan anak-anak pengemis, namun ia masih menaruh kasihan kepada mereka!

Dugaan Han Han keliru dan ia menjadi makin suka kepada bocah itu ketika melihatnya datang berlari sambil membawa sebuah kulit waluh kering yang ternyata terisi air teh. Terengah-engah ia duduk di dekat Han Han. Han Han melirik dan mendapat kenyataan bahwa roti kering di tangan anak itu masih utuh, ia makin suka. Ini menandakan bahwa anak ini memiliki watak jujur dan setia, tidak mau mendahului makan roti dengan air teh sebelum tiba di tempat Han Han!

“Nah, mulailah!” ajak Han Han yang mengambil sepotong roti, mencelupkannya di air teh sampai lama, kemudian mulai makan roti itu. Anak itu menirunya, dan setelah ia berhasil menggigit sepotong roti, ia mengunyahnya dengan lahap sambil mulutnya mengomel.

“Wah, enak! Harum dan gurih….!”

Tidak ada balas jasa yang lebih nikmat lagi bagi seorang pemberi kecuali kalau pemberiannya itu dipuji dan menyenangkan hati orang yang diberinya. Wajah Han Han berseri dan teringatlah ia akan ujar-ujar kuno yang berbunyi : “Bahagiakanlah hati orang yang memberimu dengan menghargai pemberiannya!” Bocah ini telah melakukan hal itu. Tak mungkin dia tahu akan ujar-ujar ini, tentu hanya kebetulan saja!

“Siapa namamu?” tanya Han Han.

“Wan Sin Kiat! Ayahku dahulu perajurit, tewas di medan perang melawan anjing…. eh, tentara Mancu.” Bocah itu memandang ke kanan kiri, takut kalau-kalau makiannya terdengar orang. “Ibuku lari bersama seorang perwira Mancu. Aku tidak sudi ikut ibu, maka merantau dan…. beginilah. Engkau siapa?”

“Aku Han Han….”

“Tentu seorang kongcu yang menyamar menjadi pengemis!”
“Eh! Sembarangan saja menuduh. Aku bukan kongcu, juga bukan pengemis!”
“Lagak dan sikapmu seperti kongcu. Kau patut menjadi kongcu. Mungkin juga bukan, akan tetapi bukan pengemis? Heh, jangan berolok, kawan. Pakaianmu itu!”

Han Han penasaran. “Biarpun pakaianku butut, aku tidak pernah mengemis! Aku makan dari hasil keringatku. Roti itu pun pemberian pedagang roti yang kubantu membongkar muatan terigu!”

“Ahhh, begitukah?” Sin Kiat menghela napas dan menunduk. “Kalau aku…. aku pengemis tulen.”

Han Han merasa menyesal telah menyinggung perasaan orang tanpa disengaja. Ia memegang lengan anak itu dan berkata, “Engkau sampai menjadi begini akibat perang…., bukan kehendakmu, Sin Kiat.”

Tiba-tiba Sin Kiat berkata penuh semangat. “Kalau sudah besar aku akan menjadi seorang perajurit seperti mendiang Ayahku! Bahkan aku akan menanjak menjadi Perwira. Kau lihat saja!”

Tidak ada komentar: